beritadunesia-logo

Dina Sone

\"dina\"Tahlilan terhadap kematian seseorang di dalam masyarakat Ternate dikenal dengan sebutan “Tahlil Sone ma-Dina”. Tahlilan malam pertama ini dikenal dengan “Sone ma-Dina – Futu Rimoi” (Tahlilan Malam ke-1). Inti dari tulisan ini adalah pembahasan tentang masalah ini. Sedangkan uraian tersebut di atas adalah pengantar dan gambaran tentang tradisi seputar saat hari kematian.

Adapun penyebutan dan pelaksanaan Sone ma-Dina di Ternate didasarkan pada angka bilangan hitungan dalam bahasa Ternate. Contoh angka bilangan hitungan pelaksanaan Sone ma-Dina dalam bahasa Ternate adalah sebagai berikut :

Pelaksanaan Tahlilan “Sone ma-Dina – Futu Rimoi” dilaksanakan pada malam hari setelah hari pemakaman. Pada tahlilan hari pertama ini didalam kamar tidur dibuat semacam pusara yang terhampar di atas tempat tidur yang digunakan almarhum semasa hidupnya. Diatas tempat tidur di dekat pusara diletakkan pakaian dan perlengkapan pribadi milik almarhum berupa kemeja dan celana serta barang berharga lainnya seperti, jam tangan, gelang, kopiah dsb. Tempat ini oleh masyarakat Ternate disebut dengan “Gunyihi” atau “Sone ma-Gunyihi”.

Sejak malam itu, ditentukan seorang yang bertugas untuk bertanggung jawab menunggui dan membacakan doa di Gunyihi tersebut. Biasanya ditunjuk dari salah satu dari yang dituakan, misalnya Imam atau pemuka agama kampung yang berpengaruh dan sudah biasa melakukan hal tersebut. Kegiatan ini dilakukan setiap hari hingga hari ke-11 yang disebut dengan “Hoi Gunyihi” (bongkar tempat). Bongkar tempat yang dimaksud disini adalah membersihkan dan membongkar pusara di atas tempat tidur (Gunyihi), dan kamar tersebut bias difungsikan sebagaimana biasa kamar tidur yang digunakan sebelumnya.

Pelaksanaan Dina-Dina selanjutnya adalah hari ganjil malam berikutnya yaitu malam hari ke-3 yang disebut dengan “Sone ma-Dina – Futu Ra’ange” dan malam hari ke-5 yang disebut dengan “Sone ma-Dina – Futu Romotha”. Tahlilan malam ganjil tersebut biasanya dilaksanakan pada malam hari selepas sholat Isya. Sedangkan pada hari ke-7 merupakan pelaksanaan Dina paling besar yang oleh masyarakat Ternate disebut dengan “Dina Lamo” (Lamo=besar).

Pada hari ke-7 ini dilaksanakan dua kali tahlilan, yaitu pada sore hari adalah Tahlilan Dina Lamo dan pada malam hari dilaksanakan tahlilan biasa seperti di malam sebelum pada Dina ke-1, Dina ke-3 dan Dina ke-5.

Pada tahlilan Dina Lamo di sore hari, dilakukan dengan besar-besaran yang disertai dengan makanan adat, yang disebut “Jaha se Kukusang” atau juga sering disebut dengan “Ngogu Adat”. (lihat gambar). Para undangan yang akan hadir pada tahlilan Dina Lamo ini terdiri dari “Bobato Akhirat” dan “Bobato Dunia”. Bobato Akhirat adalah para pemuka agama, mulai dari Imam besar, khotib dan modim/muazim. Sedangkan Bobato Dunia adalah para pemuka masyarakat, pemuka adat dan para haji-haji di lingkungan tersebut. Undangan untuk melaksanakan setiap tahlilan disebut dalam bahasa Ternate disebut “Gogoro Dina” untuk membedakan dengan undangan untuk hajatan syukuran (Gogoro Haji) atau perkawinan (Gogoro Kai).

Tempat duduk yang diatur-pun tidak sembarangan. Biasanya para Bobarto Akhirat bertempat duduk di sebelah kiri berderet ke kiri mulai dari para Imam lalu para khotib dan para modim. Mereka biasanya menggunakan jubah dan sorban. Sedangkan para Bobato Dunia biasanya berada di deretan sebelah kanan, mulai dari yang dituakan hingga para haji-haji di lingkungan tersebut. (lihat gambar).

Pelaksanaan Tahlilan Dina Lamo pada sore hari, dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama dilakukan tahlilan dan doa yang dipimpin oleh Imam besar. Doa yang dibawakan adalah “Doa Alham Tarekat” dan “Alaikayaa”. Doa ini dilakukan karena menurut mereka pada hari ke-7 kematian seseorang sang almarhum di alam kubur (barzah) mengalami apa yang disebut “Leo-Leo Toma Kubu ma-Daha”. Pada pelaksanaan tahlil Dina lamo ini, para peserta tahlilan mengenakan kalungan bunga khusus di atas kepala mereka.

Setelah selesai mereka istirahat sebentar, sementara yang lainnya (hadirin yang tidak ikut tahlilan) mempersiapkan dan mengatur maklanan adat di atas meja panjang tempat dilaksanakannya tahlilan Dina Lamo tadi. Namun dalam pelaksanaan bacaan doa untuk menyantap makanan adat, kalungan bunga di kepala peserta tahlilan tidak dikenakan lagi. Makanan yang disajikan sama persis seperti pembahasan pada artikel sebelumnya (Makna Filosofis Tradisi saro-Saro dan Joko Kaha….). Pada menjelang ba’da Isya, dilanjutkan dengan tahlilan malam.

Tahlilan berikutnya adalah malam hari ke-9 dan malam hari ke-11. Pelaksanaan tahlilan ini sama seperti pada malam-malam sebelumnya. Pada hari ke-11 ini dilaksanakn apa yang disebut “Hoi Gunyihi” (bongkar Tempat/pusara di kamar tidur) pada sore harinya seperti penjelasan di atas.

Selain Hoi Gunyihi ini, terdapat satu tradisi lama masyarakat Ternate, yaitu “Parasi”. Tradisi ini dilakukan di bagian belakang rumah duka. Tradisi Parasi adalah tradisi saling menyiram dengan air bekas cucian beras, saling kejar-mengejar untuk menggosok kotoran hitam dari belanga yang sudah di oleskan ke tangan untuk dioleskan lagi ke wajah siapa saja yang ditemui di sekitar dapur ataupun di sekitar belakang rumah duka.

Tradisi ini biasanya dilakukan oleh keluarga duka, sanak family dan kerabat yang sejak hari pertama kematian datang membantu memasak (Lian) selama pelaksanaan Dina-Dina di rumah duka. Suasana di belakang rumah menjadi hiruk-pikuk dan penuh tawa dan saling kejar-mengejar satu sama lainnya.

Satu batasan yang harus dipatuhi adalah, saling mengejar dan beraksi dalam tradisi ini hanya di bagian dalam rumah hingga ke belakang saja, tidak boleh sampai ke depan rumah atau di jalan raya depan rumah. Makna dari tradisi ini adalah saling menghibur dan mmenghuilangkan kesedihan setelah ditinggal sang almarhum selamanya. Saat ini tradisi “Parasi” ini sudah jarang dilakukan oleh masyarakat kota Ternate, namun di daerah-daerah tertentu masih melakukannya.

Kembali kepada pembahasan tentang Sone ma-Dina…. Setelah pelaksanaan Hoi Gunyihi, tahlilan dilaksanakan pada hari ke-15 yang disebut “Sone ma-Dina Futu Nyagirimoi se Romtoha” yang dilakukan pada malam hari setelah sholat Isya. Setelah itu, dilaksanakan tahlilan lagi pada tahlilan hari ke 40 yang disebut dengan “Sone ma-Dina Futu Nyagiraha”. Ada sebagian masyarakat Ternate melakukannya pada hari yang ke-44.

Pada tahlilan Dina Sone pada hari yang ke-40 ini, disertai dengan kegiatan membersihkan kuburan. Kegiatan ini oleh masyarakat Ternate disebut dengan ”Ruba Kubu” (Bersihkan Kuburan) karena sejak hari pertama meninggal hingga hari yang ke 40 begitu banyak bunga rampai dan irisan daun pandan yang ditaburkan di atas pusara/kuburan almarhum sudah sangat banyak dan menumpuk yang dalam bahasa Ternate disebut dengan “Bunga Rampe se Pondak Tofu”.

Setelah empat puluh hari kematian, tahlilan dilakukan lagi pada hari yang ke-100, namun sebagian masyarakat Ternate masih melakukannya pada kelipatan sepuluh setelah 40 hari kematian, yaitu hari ke-50, hari ke-60, hari ke-70, hari ke-80 dan hari ke-90. Setelah seratus hari meninggal, masyarakat Ternate malaksanakan tahlilan maninggalnya almarhum pada hari ke 1 tahun meninggalnya almarhum. Namun ada sebagian masyarakat Ternate yang masih melakukannya sebelum satu tahun yaitu pada hari yang ke-200.

 

Sumber: ternate.wordpress.com